• blog…blog…

    Nana
    cmah
    pinang
    ummi
    Ani
    Jool
    Si Kosong
    Ayu
    Ewan
    Mr Joe
    Cma
  • LiNks

    youtube yahoo
    mosti yahoo
  • October 2009
    M T W T F S S
    « Sep   Nov »
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  

TAZKIRAH HARI INI : “SABAR ATAS KEMATIAN INSAN TERSAYANG”

Tazkirah hari ini ialah tentang SABAR ATAS KEMATIAN INSAN TERSAYANG.

Al-Hadis :-

Rasulullah s.a.w telah bersabda yang maksudnya: “Jika seorang hamba Allah kematian anak, Allah bertanya kepada Malaikat: “Adakah kamu telah mengambil nyawa anak hamba-Ku? Malaikat menjawab: “Ya”. Allah bertanya lagi: “Kamu telah mengambil nyawa buah hatinya?” Malaikat menjawab: “Ya”. Allah bertanya kali ketiga: “Apakah kata hamba-Ku?” Malaikat menjawab: “Ia bersyukur pada-Mu serta mengucapkan: “dari Allah kita datang dan kepadaNya kita kembali”. Allah Ta’ala memerintahkan malaikat-Nya: “Binalah baginya sebuah rumah di syurga dan namakan rumah itu ‘Rumah Kesyukuran”.          (Riwayat at-Tirmizi dan Ibnu Hibban)

Huraian :-

• Apabila keimanan seseorang itu sudah kukuh dan mencapai kedudukan yang istimewa, pasti segala kejadian dan musibah yang terjadi menjadi kecil pada dirinya.

• Dia menyerahkan segala yang menimpa kepada Allah S.W.T tanpa merasa bimbang, kecewa dan sedih bahkan menerimanya dengan perasaan yang tenang dan sabar. Dengan perkataan lain, dia redha terhadap qada’ dan tunduk terhadap takdir Allah S.W.T. Inilah sifat yang harus ada pada seorang mukmin yang sebenar.

• Tidak dinafikan bahawa kesabaran itu amatlah berat, namun terlalu besar ganjarannya jika mahu dibandingkan dengan ujian-ujian yang lain. Hal ini termasuklah kesabaran seseorang itu di atas kematian anak kecil mereka di mana pada hari akhirat kelak ia akan menjadi suatu syafaat (mudah mendapat keampunan Allah) buat mereka yang menjadi ibu bapanya.

Sumber : Jabatan Kemajuan Islam Malaysia

—————————————————————————————–

membaca tazkirah yg di hantar oleh ustaz wan untuk warga mosti hari ini. mungkin boleh dikongsi bersama.

 

Advertisements

Waktu dan Cinta…

Alkisah di suatu pulau kecil, tinggallah berbagai macam benda-benda abstrak: ada Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan, Kecantikan dan Waktu. Mereka hidup berdampingan dengan baik.

Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri.

Cinta sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencuba mencari pertolongan. Sementara itu air makin naik membasahi kaki Cinta. Tak lama Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu.

“Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!” teriak Cinta.
“Aduh! Maaf, Cinta! Perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagi pula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini.” Lalu Kekayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi.

Cinta sedih sekali, namun kemudian dilihatnya Kegembiraan lewat dengan perahunya.

“Kegembiraan! Tolong aku!”, teriak Cinta. Namun Kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tak mendengar teriakan Cinta. Air makin tinggi membasahi Cinta sampai ke pinggang dan Cinta semakin panik. Tak lama lewatlah Kecantikan.

“Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!”, teriak Cinta.
“Wah, Cinta, kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini.” sahut Kecantikan.

Cinta sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itu lewatlah Kesedihan.

“Oh, Kesedihan, bawalah aku bersamamu,” kata Cinta.
“Maaf, Cinta. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja” kata Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya.

Cinta putus asa. Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya. Pada saat cemas itulah tiba-tiba terdengar suara.

“Cinta! Mari cepat naik ke perahuku!” Cinta menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang tua dengan perahunya. Cepat-cepat Cinta naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya.

Di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi. Pada saat itu barulah Cinta sedar bahawa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang menyelamatkannya itu. Cinta segera menanyakannya kepada seorang penduduk lama di pulau itu, siapa sebenarnya orang tua yang telah menyelamatkan dirinya itu.

“Oh, orang tua tadi? Dia adalah Waktu.” kata orang lama di pulau itu.

“Tapi, mengapa ia menyelamatkanku? Aku tak mengenalnya. Bahkan teman-teman yang mengenalku pun enggan menolongku” tanya Cinta kehairanan.

“Sebab…..,” kata orang lama di pulau itu, “Hanya Waktu yang tahu betapa bernilainya Cinta itu …